Nama saya Dilla Nur Alfilaily.
Kata orang tua, arti nya
'Naungan Cahaya Seribu Malam'
Saya suka sekali.
Saya terlahir dari rahim seorang ibu yang mandiri.
Keluarga saya sangat sederhana. Kami semua Alhamdulillah berkecukupan.
Kami bukanlah manusia yang terlahir untuk mendapatkan sesuatu dengan begitu saja. Setiap hasil memiliki proses yang begitu panjang dan tidak mudah. Perjuangan adalah darah yang mengalir bagi kami.
Keluarga kecil ibu dan bapak saya bermula dari 150.000 di hari pertama mereka mengawali kehidupan sebagai sepasang suami istri. Saat itu, bapak saya adalah seorang mahasiswa yang bermodal nekat untuk berkeluarga.
Yaps, bapak adalah sosok mandiri juga. Karena bapak bersekolah dengan uang yang ia cari sendiri. Karena beliau tau, keadaan ekonomi di keluarga beliau tidak stabil.
Akhirnya, kuliah dengan penghasilan sendiri. Ditambah berkeluarga dan istri sedang mengandung.
Menjadi pedagang kaki lima adalah hal yang pertama bapak saya lakukan untuk mencari nafkah. Menjual perdalaman cocok dengan modal yang dimiliki. Ketika bapak kuliah, ibu terkadang menggantikan bapak untuk berdagang.
Cinta itu saling melengkapi dan tiada batas untuk saling memiliki.
Bisnis keluarga berkembang.
Yang tadi nya hanya pedagang kaki lima. Akhirnya punya toko.
Sempat menjadi ancaman, hingga akhir nha di usir dari toko sendiri. Bahkan, ada yang melarang untuk memasuki barang ke toko bapak saya.
Ibu, hanya bisa mengadu, menangis, dan berdoa.
Perlahan demi perlahan bapak tempuh. Saat itu, anak sudah 3. Otak terus berfikir bagaimana dapur bisa mengebul.
People leave. Allah stay.
Dibalik suami yang sukses, ada 2 orang wanita dibaliknya.
Istri dan ibu nya.
Segala usaha bapak lakukan.
Dari menjadi supir sekolah, mengisi kerupuk ke warung-warung, membuka usaha jaket kulit, rajut, dll.
Bukankah kesabaram tidak ada batas nya?
Ditipu oleh perusahaan asing. Ditipu oleh teman sendiri. Ditipu oleh konsumen. Sudah bapak saya rasakan.
Begitu mengharukannya. Ketika ibu tidak mengizinkan untuk jajan. Kami menahan untuk tidak jajan.
Ketika yang lain dijemput sekolah dengan mobil nya masing2. Kami harus mandiri dengan naik angkot. Ketika ingin jajan lebih, uang untuk naik ojeg tidak dipakai dan berjalan kaki ke sekolah.
Dan yang paling aku tidak suka, Ketika bapak terus berusaha memberikan apa yang ia janjikan kepada anak2nya dengan susah payah.
Yaps, bukankah hidup itu perjuangan. Dan tempat beristirahat adalah Surga.
Untuk menjadi saat ini, bukanlah hal mudah untuk dilakukan.
Memiliki toko yang bercabang, memiliki pegawai, memiliki rumah, memiliki kendaraan, memiliki barang bermerek.
Semua hanya titipan. Yang saya inginkan, semoga apa yang dititipkan Allah menjadi keberkahan untuk keluarga saya.
Perjuangan saya baru saja dimulai. Akan seperti apa kisah nya? Semoga saya memiliki kesabaran untuk mengahadapi nya. Aamiin.
Kasih sayang ibu dan kasih sayang bapak yang saya rasakan amat sangat ingin membuat saya sedih.
Semoga Allah selalu memberkahi setiap usaha hamba-Nya.
Bapak dan ibu saya adalah orang yang sangat menginspirasi saya. Mereka bukan siapa-siapa. Mereka tidak terkenal. Pendidikan mereka tidak begitu tinggi.
Mereka tidak memiliki jabatan. Mereka tidak begitu banyak di kenal orang. Walaupun saya dikenal sebagai saya, bukan sebagai anak siapa.
Tapi, saya selalu bangga dengan mereka. Selalu.
Selama nya, selalu.
Insya Allah.
Terima kasih, doa-doa yang selalu orang tua saya panjatkan untuk diri saya. Untuk menjadi sosok yang lebih baik. Kalau bukan orang tua yang mendoakan saya, siapa lagi?
Semoga menginspirasi. Semua punya cara nya masing2 untuk menjalani kehidupan ini.
Bandung, 19 Juli 2017.
23.04
